Content

Kelvin White Balance

Senin, 23 Desember 2013 0 komentar
Melanjutkan percakapan kita tentang WB, mimin akan menerangkan jenis WB pada kamera Canon EOS. #CanonInfo

Tungsten atau Incandescent (2500-3500K)
untuk Mode ini cocok digunakan untuk pemotretan dengan sumber cahaya seperti lampu pijar. Bila mode ini digunakan dengan sumber cahaya lain hasilnya akan sangat biru.

Flourescent (4000-5000K)
Mode ini biasa digunakan dengan temperatur warna dari lampu neon. tp jangan salah pilih. karna lampu neon ada 2 jenis ada yang warnanya agak kuning seperti lampu pijar dan ada yang daylight seperti cahaya matahari

Daylight (5000 - 6500K)
Seperti pada gambarnya mode ini cocok digunakan untuk pemotretan outdoor pada siang hari.

Flash (5600K) 
mode ini cocok digunakan untuk penggunaan lampu Flash.

Cloudy (6500 - 8000K)
Sesuai dari namanya Cloudy mode ini dipakai pada siang hari dengan kondisi berawan.

Shade (8000-10000K) 
Pada mode ini biasanya digunakan pada pemotretan outdoor dengan cuaca yang sangat berawan, dengan mode ini digunakan K yang sangat tinggi. berhati-hati dengan menggunakan mode ini, jika dikapai dengan sumber cahaya lain.

Coustom
Pada mode ini Digunakan untuk meng-coustom WB yang akan km gunakan. dengan cara menggunakan media Gray Card atau kerta putih.

Colour Temp
Digunakan untuk menyesuaikan WB dengan cara menentukan sendiri derajat kelvin yang anda inginkan. (mode ini hanya ada di Camera Canon EOS tertentu Seperti kamera 60D, 60DA, 70D, 7D, 6D, 5DmkIII)
Tungsten atau Incandescent (2500-3500K)
untuk Mode ini cocok digunakan untuk pemotretan dengan sumber cahaya seperti lampu pijar. Bila mode ini digunakan dengan sumber cahaya lain hasilnya akan sangat biru.

Flourescent (4000-5000K)
Mode ini biasa digunakan dengan temperatur warna dari lampu neon. tp jangan salah pilih. karna lampu neon ada 2 jenis ada yang warnanya agak kuning seperti lampu pijar dan ada yang daylight seperti cahaya matahari

Daylight (5000 - 6500K)
Seperti pada gambarnya mode ini cocok digunakan untuk pemotretan outdoor pada siang hari.

Flash (5600K)
mode ini cocok digunakan untuk penggunaan lampu Flash.

Cloudy (6500 - 8000K)
Sesuai dari namanya Cloudy mode ini dipakai pada siang hari dengan kondisi berawan.

Shade (8000-10000K)
Pada mode ini biasanya digunakan pada pemotretan outdoor dengan cuaca yang sangat berawan, dengan mode ini digunakan K yang sangat tinggi. berhati-hati dengan menggunakan mode ini, jika dikapai dengan sumber cahaya lain.

Coustom
Pada mode ini Digunakan untuk meng-coustom WB yang akan km gunakan. dengan cara menggunakan media Gray Card atau kerta putih.

Colour Temp
Digunakan untuk menyesuaikan WB dengan cara menentukan sendiri derajat kelvin yang anda inginkan. (mode ini hanya ada di Camera Canon EOS tertentu Seperti kamera 60D, 60DA, 70D, 7D, 6D, 5DmkIII)


Sumber: Canon Camera (Indonesia)
Baca selengkapnya »

Tips Memotret Tetesan Air (Water Drop)

Kamis, 26 September 2013 0 komentar
Gambar tetesan atau percikan air sangat menarik untuk dilihat dan cukup mudah untuk dibuat. Anda mungkin sering melihat beberapa foto tetesan atau percikan air yang sangat bagus. Foto-foto ini tidak terlalu sulit untuk didapatkan selama anda memiliki kesabaran dan peralatan yang tepat.

Photo ideas: amazing water drop photography

Pertama-tama, ada tiga jenis utama dari fotografi kecepatan tinggi: Burung atau serangga yang sedang terbang, serta tetesan air. Dua hal yang pertama memerlukan peralatan khusus, sedangkan air tidak.

Berikut adalah beberapa peralatan yang harus anda siapkan:
  • Body kamera
  • Sebuah lensa yang memungkinkan fokus jarak dekat. Lensa yang ideal adalah makro
  • Sebuah tripod atau permukaan kuat dan kokoh untuk meletakkan kamera.
  • Sebuah flashgun atau anda dapat mencoba menggunakan built in flash. Tetapi, flashgun akan terbukti lebih efektif
  • Sebuah nampan, wajan atau apapun yang berwarna hitam dengan tinggi 2 cm atau lebih yang cukup besar untuk menampung air.
  • Sebuah kantong plastik yang akan menyimpan air yang menetes.
  • Sebuah background berwarna.

Permulaan
Kamera harus diposisikan di depan air akan menetes, yaitu sekitar 2 – 3 cm di atas permukaan air, dan berjarak sekitar 15 – 20 cm jauhnya. Kemudian, tempatkan background dibelakang nampan. Jadi konsepnya yaitu kamera, kemudian nampan lalu background dalam satu baris. Sekarang flash-nya. Flash harus diposisikan di sisi kanan di mana air akan memetes dengan menggunakan kabel, dan menghadap ke arah background. Flash akan memantul dari background – memberikan warna yang bagus, tergantung kepada warna background yang anda pakai.
Sekarang, Anda perlu menempatkan kantong plastik di atas nampan. Anda dapat menempelkannya ke dinding, lemari atau apapun yang dapat menahannya. Pastikan saja tingginya sekitar 12-14 cm di atas nampan air.
Mengambil foto
Selanjutnya, anda harus membuat lubang kecil menggunakan jarum di bagian bawah kantong. Ini akan menciptakan aliran air yang sangat stabil. Jika Anda ingin alirannya menjadi lebih cepat, maka cukup membuat lubang sedikit lebih besar. Ingatlah untuk mengisi kantong plastik dengan air terlebih dahulu.
Sekarang pindahkan kamera ke fokus manual. Dimana tetesan air akan jatuh, untuk mengatur fokus, simpanlah sebuah pensil atau benda kecil pada spot tersebut. Kemudian periksa kembali bahwa flash menghadap background yang berwarna.
Settingan kamera
Modus manual pada settingan kamera yaitu 1/60 detik dan f/22, juga mode manual pada flash, power setting diatur pada 1/64 atau 1/32. Pengaturan ini akan membuat durasi flash benar-benar pendek, tetapi settingan ini hanya patokan dasar saja, anda dapat mengaturnya sesuai dengan kebutuhan.
Pastikan anda memotret dalam keadaan gelap, karena ini akan meningkatkan kualitas warna, serta flash akan bekerja lebih baik juga. Ingatlah bahwa ada aliran yang konstan atau terus menerus.
Anda dapat melakukan percobaan dengan cairan dan warna yang berbeda termasuk susu dan kopi. Setelah Anda tahu bagaimana melakukannya, anda dapat menggunakan apa pun yang anda inginkan.

Sumber : Oktagon.co.id
Photo : Illustrasi
Baca selengkapnya »

Tips Penting dan Sederhana Dalam Penggunaan Flash Pada Kamera Foto

Jumat, 20 September 2013 0 komentar
Bro n' Sis, sebagai insan fotografi (woowww), kita mungkin sepakat bahwa penggunaan flash pada proses fotografi adalah pilihan terakhir. Sumber cahaya yang paling disukai adalah cahaya alam atau cahaya lingkungan dimana objek gambar yang ingin kita ambil. Namun, kita mungkin juga sepakat bahwa sering kali kondisi tersebut tidak tercapai. Akhirnya kita akan membutuhkan cahaya tambahan.
Cahaya tambahan yang diharapkan tentunya cahaya yang dapat menggantikan cahaya primer yang (sedapat mungkin) natural. Inilah yang melatarbelakangi penelitian-penelitian untuk mengembangkan konsep Flashes, baik built-in maupun Eksternal (Blitz).
Ada beberapa poin penting yang dapat dijadikan sebagai tips sederhana dalam memanfaatkan cahaya tambahan dari alat flashes. Diantaranya akan saya utarakan disini, sebagai berikut :

  1. Hindari kaca, cermin maupun bahan-bahan lain yang dapat memantulkan cahaya dengan intensitas besar (misalnya keramik atau dinding yang dicat glowsy), baik sebagai latar belakang maupun latar depan objek. Kenapa? Bro2 semua pasti sudah tau alasannya, hal tersebut akan membias kepada hasil foto. Foto akan rusak oleh pantulan cahayanya sendiri.
  2. Pertimbangkan penggunaan eksternal blitz. Saat ini, hampir semua produk kamera, baik pocket maupun DSLRs sudah dilengkapi dengan flash built-in. Namun penggunaan flash built-in dapat termasuk dalam kategori darurat bila kita mengharapkan hasil foto yang natural. Karena juga memiliki beberapa masalah serius seperti red eye dan contrast yang terlalu berlebihan. Dengan penggunaan ekternal blitz memungkinkan kita menghasilkan foto yang alami, mereduksi red eye dengan baik dan yang terpenting Anda berkuasa untuk melakukan pembelokan arah cahaya sesuai harapan Anda.
  3. Hal lain yang harus diperhatikan juga, latar belakang sekitar objek harus mendapatkan jumlah cahaya yang cukup sesuai dengan prioritasnya, untuk itulah kita harus melakukan setting arah pantulan flashes dengan baik. Perhatikan pula bila Anda dapat memanfaatkan pantulan cahaya dari media lain, seperti dinding atau flafon atas yang berwarna putih. Intinya, penambahan cahaya sedapat mungkin dalam penyebaran ke seluruh frame foto. Kecuali Anda ingin memprioritaskan pada satu objek saja dengan latar lingkungan yang gelap, untuk ini Anda harus menggunakan sumber pencahayaan dari luar yang mengarah ke objek dari sudut yang berbeda dari sudut pengambilan gambar.
  4. Membatasi pencahayaan. Apabila Anda merasa pencahayaan dalam foto menjadi terlalu bright, Anda dapat bereksperimen dengan menempelkan potongan kertas pada sebagian permukaan lampu flash. Lakukan kombinasi dengan pengaturan pada kamera. Anda mungkin saja akan menghasilkan foto yang unik dengan nuansa yang berbeda.
  5. Berlatihlah. hehe… mungkin ini terdengar agak klasik. Namun tidak ada cara lain untuk menguasai pengaturan yang pas terhadap pencahayaan tambahan sesuai dengan harapan Anda tanpa berlatih. Ada baiknya Anda mencoba berlatih atau mencari konfigurasi yang paling pas, baik itu setting pembelokan cahaya maupun seting lainnya seperti kecepatan rana dan aperture. Lakukan percobaan pada jarak objek dan jumlah cahaya yang diperlukan. Anda juga dapat berlatih mengambil satu gambar berkali-kali dengan pengaturan yang berbeda, maka Anda akan menemukan gambar yang berbeda, dan ini akan membuat Anda tahu gambar dengan konfigurasi apa yang paling Anda sukai.

Sumber : FP Oktagon.co.id
Illustrasi Foto :
Baca selengkapnya »

Fireworks (Teknik Slow Action)

Rabu, 04 September 2013 0 komentar
Teknik Slow Action merupakan kebalikan dari Teknik Freeze. Berikut penjelasannya.
Slow Action memiliki arti aksi yang lambat. Jadi dengan kata lain Teknik Slow Action menghasilkan foto yang objeknya bergerak lambat atau nantinya di foto yang dihasilkan akan terlihat pergerakan si objek.
Seuah kembang api yang bergerak cepat (digerakkan melingkar oleh Davue) di foto dengan teknik slow action menghasilkan pergerakan si kembang api dan di foto terlihat kembang api berubah menjadi seperti membentuk lingkaran. Selain pada gambar pada contoh di bawah ini, slow action juga sering di gunakan pada saat keadaan crowded / ramai atau  saat pertunjukan drama.
Dalam prakteknya, Teknik Slow Action haruslah menggunakan Shutter Speed / kecepatan rana yang lambat agar kamera mendapatkan moment pergerakan si objek.
Terkadang penggunaan tripod sangat dibutuhkan jika kita ingin memotret menggunakan teknik slow action. Karena jika tidak menggunakan tripod, yang ada fotonya acak - acakan.





Sumber Artikel Foto : bymakinov
Baca selengkapnya »

Saya Suka Gayanya

Jumat, 05 Juli 2013 0 komentar

Baca selengkapnya »

Teknik Dasar Fotografi dengan Efek Starburst

Jumat, 26 April 2013 0 komentar
Kata siapa bila malam kita tidak bisa foto-foto? Bisa tetapi harus menggunakan flash, tidak salah.  Teknik fotografi dengan efek starburst bisa  memanfaatkan cahaya Lampu dimalam hari yang ada disekitar kita. Untuk membuat starburst dengan teknik fotografi kali ini, hal mendasar yang harus kita pahami adalah membuat aperture (bukaan) lensa sekecil mungkin, artinya kita sebaiknya menggunakan angka aperture yang besar (f/11 s.d f/22) dan sebaiknya memanfaatkan lensa yang memiliki focal length lebih pendek. Sebenarnya efek starburst tidak selalu malam. Anda juga bisa memanfaatkannya di pagi hari terutama pada saat matahari terbit. Teknik fotografi ini akan membuat seakan-akan sumber cahaya berpendar(menyebar) ke segala arah.
Sebelum anda lanjut membaca artikel ini sebaiknya di review kembali beberapa artikel, dari sumber artikel ini:
  1. Tiga komponen penting dalam fotografi: Aperture (Diafragma) Bagian satu
  2. Tiga komponen penting dalam fotografi: Aperture (Diafragma) Bagian dua
teknik fotografi dasar
Sand Dune Starburst, www.backcountrygallery.com

Mungkin ada yang bertanya kenapa harus bukaan kecil, bukannya malah akan gelap? Penjelasannya akan panjang. Singkatnya adalah secara fisika cahaya akan mengalami difraksi (penyebaran) saat melewati lubang sempit. Sifat penyebaran cahaya inilah yang membuat sumber cahaya (lampu, bulan, matahari) akan terlihat berpendar dan memiliki lidah, jumlah lidah akan bergantung pada jumlah bilah (blade) aperture dalam lensa anda, lihat spek lensa yang anda miliki, pasti akan ada tertulis “aperture blade”. Seperti teknik fotografi lainnya yang sangat mengandalkan cahaya, efek starburst juga sangat bergantung pada momen anda memperkirakan cahaya yang ada. Kalau bisa saat anda mengambil gambar sediakan sedikit cahaya agar foto anda tidak under exposure.
Efek starburst banyak disukai karena karakteristik cahaya akan tampak berpendar ke segala arah. Banyaknya pendar ini disebut dengan bilah cahaya, dan ini tergantung dengan bukaan diafragma, semakin kecil semakin banyak bilahnya. Efek starburst ini selalu berkawan dengan shutter speed yang rendah karena bukaan yang kecil sehingga kamera membutuhkan waktu lebih lama agar sensor atau film terkena cahaya yang cukup. Teknik fotografi ini juga sangat bergantung pada panjang focal length dari lensa yang anda gunakan, semakin pendek focal lenghtnya semakin bagus foto yang dihasilkan. Efek starbust banyak juga diminati oleh fotografer landscape baik itu yang alam maupun perkotaan.

Kalau masih belum jelas, silahkan lihat gambar berikut ini

starburst_nightGambar disamping menunjukkan, semakin kecil bukaan (angka f semakin besar), lidah cahaya akan semakin maksimal. Sementara di angka f yang kecil, sumber cahaya tampak tanpa burst sama sekali.

Tips Foto dengan efek Starburst:
Dalam aplikasinya teknik fotografi dengan bukaan yang kecil sehingga cahaya yang masuk menjadi sedikit dan membutuhkan shutter speed yang agak lama dalam hal ini memerlukan Tripod. Memotret malam hari dengan angka f yang besar, misal foto dengan f/18 secara otomatis anda harus menggunakan  shutter speed rendah agar sensor mendapatkan cahaya yang cukup. Silahkan coba foto diatas 25 detik kenapa tanpa tripod, dijamin foto anda tidak jelas hasilnya.
Perhatikan setting kamera, untuk menggunakan efek burst  gunakan angka f yang besar: f/11 atau lebih besar. Atur ISO di angka yang rendah, dibawah 400, karena teknik fotografi ini perlu cahaya yang cukup sehingga kita akan memotret long exposure. Anda bisa menggunakan mode manual maupun aperture priority, yang jelas perhatikan angka metering kamera. Untuk pemotretan malam hari seperti ada kecenderungan hasil akan over exposure (terlalu terang), jadi pakai exposure compensation angkanya bervariasi tergantung dari lingkungan sekitar, coba pakai under 1 stop sebagai awal dan sesuaikan setelahnya.
teknik fotografi starburst
Efek starburst pada jembatan yang cahaya memantul ke air | www.macworld.com

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pada teknik fotografi kali ini kita akan menggunakan bukaan aperture yang kecil, dimana seluruh bagian pada foto akan terlihat tajam. Tidak ada yang blur, sehingga anda tidak perlu pusing-pusing untuk mengatur focus. Image stabilizer pada saat menggunakan tripod sebaiknya dimatikan saja karena kamera sudah stabil dengan tripod, dan cara ini dapat menghemat baterai.
Manfaatkan highlight alert kamera dengan sebaik-baiknya anda, high light alert ini kan berkedip-kedip member peringatan  pada saat kita memotret subjek yang terang bling-bling yang muncul di LCD.
Ingat segala sumber cahaya bisa digunakan untuk menghasilkan efek starburst begitu pula pada pantulan cahaya. Teknik fotografi ini umum juga digunakan pada fotografi makro dimana menghasilkan efek bintang/starburst mini. Ambil anda bisa menggunakan pantulan tetesan air, yang disinari dengan lampu strobis.
Jangan mengubah angka aperture sampai diatas f/22  walaupun sebenarnya semakin kecil bukaan maka bilah cahaya akan semakin banyak, perlu diingat juga semakin kecil bukaan diafragma / aperture maka kualitas foto yang dihasilkan akan berkurang dan kurang tajam, oleh karena itu agar secara bijak dalam hal aperture ini. Saya sarankan bukaan antara f/11- f/22 sudah cukup memadai.
Satu hal lagi jangan ragu untuk melakukan percobaan karena kondisi cahaya yang aka n dihadapi tiap orang berbeda-beda sehingga cara-cara ataupun teknik fotografi akan bervariasi pada tiap orang. Efek starburst ini akan berkesan “menakjubkan” apabila anda bisa mengambil foto dari tempat yang tinggi seperti matahari terbit di pegunungan bromo, atau mungkin dari atas gedung pencakar langit dimana. Ada beberapa tempat lain yang bisa menjadi pilihan semisal suasana kota dimalam hari dimana anda lebih menonjolkan keindahan lampu-lampunya, silahkan dipadukan dengan lensa wide angle atau fish eye untuk mendapatkan distorsi gambar. Dijamin foto anda akan berbeda dengan yang lainnya.

Contoh Lain Foto dengan Efek Starbust : (Foto: Canon Camera, Indonesia)

Sumber :
Baca selengkapnya »
Thank's for your visit to my personal blog, Please Leave Your Message in The Message Box / Chat Below...

My Blog List