Content

Perbedaan antara Canon EOS 650D, 600D dan 60D

Selasa, 12 Februari 2013 0 komentar
Ini dia jawaban dari pertanyaan saya atau mungkin anda juga tentang "Bedanya antara Canon EOS 650D, 600D dan 60D", yang selama ini saya cari-cari sejak munculnya tiga type EOS yang hampir mirip-mirip serinya. Saya ambil dari sebuah website orang lain. Saat tulisan ini dibuat, EOS 650D adalah kamera terbaru dari Canon yang mengisi kelas pemula tapi fiturnya sudah terlalu canggih untuk pemula. Sedangkan EOS 600D adalah kamera generasi sebelumnya (buatan 2011), yang saat ini penjualannya sedang laris manis karena dijual di kisaran 6 jutaan. Di lain pihak ada ‘super Rebel’ EOS 60D (buatan 2010), kamera kelas menengah yang harganya ‘cuma’ 7 jutaan tapi fiturnya sudah lengkap termasuk kemampuan memotret hingga 1/8000 detik. Ketiganya punya kesamaan yang mudah dikenali : layar LCD yang bisa dilipat dan diputar.

Canon EOS 650D (Rebel T4i)

Kamera yang belum lama diumumkan ini menjadi kamera DSLR Canon pertama yang :
  • memakai layar sentuh
  • memakai hybrid AF CMOS sensor (phase detect dan contrast detect)
  • memakai prosesor Digic 5
sehingga singkat kata EOS 650D menjadi kamera DSLR Canon pertama yang kemampuan auto fokusnya disempurnakan untuk live view dan video, khususnya menjaga obyek yang bergerak tetap difokus dengan tepat. Prosesor terbaru Digic generasi kelima membuat 650D ini bisa mencapai ISO 12.800 dan memotret hingga 5 foto per detik.

650D vs 600D

Dilihat dari fisik luarnya, keduanya bisa dibilang kembar identik. Peningkatan yang paling signifikan dari 600D ke 650D adalah pada jeroannya, misal dipakainya modul AF 9 titik yang semua titiknya berjenis cross type (pada 600D hanya satu yang cross type). Artinya, 650D memang mantap dalam urusan auto fokus, baik itu untuk memotret ataupun video. Belum lagi lensa STM (stepper motor) yang baru saja diperkenalkan akan lebih terasa kehebatannya bila dipasang di 650D, karena adanya sensor CMOS hybrid AF itu. Kombinasi 650D dan lensa STM membuat rekaman video untuk benda bergerak dapat tetap fokus, sementara suara motor fokusnya tidak ikut terekam dalam video.
Kenapa Canon melakukan ini semua di 650D? Jawabannya karena tekanan dari kamera mirrorless yang lebih user friendly, ukurannya mungil dan lebih mudah dipakai untuk video atau live-view. Kita tahu 600D adalah kamera pemula yang sudah sangat lengkap fiturnya, tapi belum mampu melakukan auto fokus kontinu saat merekam video. Jadi wajar kalau Canon menyempurnakan sisi video, termasuk memberi stereo mic di bagian atas.
Peningkatan lainnya yang dijumpai adalah kenaikan di ISO maksimum dan kecepatan burst, dimana di 600D hanya mampu mencapai ISO 6400 dan 3,7 fps. Tapi antara 650D dan 600D keduanya memakai sensor dengan resolusi piksel yang sama yaitu 18 MP.

650D vs 60D

Perbedaan kelas antara keduanya membuat komparasi ini kurang fair. Bagaimanapun 60D adalah kamera dua digit yang didesain untuk mereka yang lebih serius dalam fotografi. Maka itu 650D tidak mungkin mengalahkan 60D dalah hal :
  • prisma (60D memakai pentaprism yang lebih terang)
  • tombol dan roda dial belakang (dibutuhkan oleh fotografer yang sering mengganti setting dengan cepat)
  • layar LCD kecil tambahan di bagian atas
  • kecepatan shutter maksimal 1/8000 detik (650D maksimal 1/4000 detik)
  • ergonomi dan ukuran grip
Tapi dalam beberapa hal 650D mampu menyamai 60D seperti dalam hal modul AF (9 titik cross type), modul metering, burst 5 fps dan kemampuan mengendalikan flash eksternal secara wireless. Resolusi sensor keduanya pun sama yaitu 18 MP. Bahkan 650D mengungguli 60D dalam beberapa aspek seperti ISO maksimal, fitur HDR dan tentunya kemampuan auto fokus kontinu saat merekam video.

Kesimpulan

Saat ini 650D hampir akan tersedia di toko, harganya tentu masih tinggi (8 jutaan). Pilih 650D kalau anda mencari kamera DSLR pemula terbaik dari Canon, atau kalau anda memang senang merekam obyek yang dinamis baik foto maupun video, atau senang dengan layar sentuh ala ponsel cerdas.
Saat ini juga, harga 600D sudah stabil dan fitur fotografinya lengkap untuk pemula. Cocok bila dana anda terbatas, tidak butuh semua hal baru di 650D dan jarang memotret benda bergerak. Atau bahkan anda saat ini masih bisa membeli 550D bila tidak butuh layar lipat di 600D.
EOS 60D sudah diambang akhir era kejayaannya, karena sudah mendekati siklus regenerasi dua tahunan. Pilih 60D kalau anda lebih serius dalam fotografi, tapi tidak ingin membayar lebih mahal untuk membeli 7D. Tombol akses yang lengkap, roda dial di belakang dan kecepatannya yang tinggi bisa jadi gambaran untuk siapa kamera ini ditujukan. Harganya bahkan lebih murah dari harga perkenalan 650D.

Baca selengkapnya »

Hubungan Antara Aperture dan Depth Of Field (Ilustrasi)

Kamis, 07 Februari 2013 0 komentar
Banyak sekali pertanyaan dari pembaca mengenai konsep aperture, terutama sekali mengenai hubungan antara aperture, bukaan lensa dan ruang tajam (depth of field – DOF). Seperti sudah kita jelaskan di artikel mengenai aperture ini, setting aperture di kamera anda akan mempengaruhi sebesar apa lensa terbuka. Dan seberapa besar lensa terbuka mempengaruhi bidang tajam alias depth of field obyek yang tertangkap di kamera. Nah untuk membantu anda memahaminya dengan jelas, kita buatkan ilustrasi dibawah ini:

Aperture ruang tajam dof Sumber :
Baca selengkapnya »

Memahami Aperture & Depth of Field

0 komentar
Setiap kali berbicara tentang fotografi dan kamera, kata-kata aperture serta depth of field akan sering sekali keluar. Nah dalam artikel ini belfot akan mencoba membantu anda memahami aperture dan depth of field sehingga cukup jelas bagi pemula.


Memahami Aperture

Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto.
Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.
Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.
apertureJadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.

Memahami Depth of Field

Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.
PICT0235_mdUntuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.
PICT0236_mdKonsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.

Baca selengkapnya »

Meeting Business Review Q-4 Mustika Ratu Tbk.

Rabu, 17 Oktober 2012 0 komentar
Satu kebanggaan tersendiri menjadi karyawan sebuah Perusahaan multinasional yang memproduksi kosmetik yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Apalagi kalau bukan Mustika Ratu Tbk. Didaulat untuk mendokumentasikan moment "Meeting Business Review Q-4" yang dilaksanakan pada tanggal 11 s/d 12 Oktober 2012 bertempat di Hotel Ibis (Slipi) Jakarta. Menggunakan DSLR EOS 550D, dan dengan sedikit proses editing, berikut adalah sebagian hasil jepretan pada kesempatan itu.

Front Banner, ambil gambar sesaat sebelum acara dibuka/dimulai.



Automatic Depth-Of-Field This mode, common on Canon SLRs, automatically controls the depth of field to ensure that the subjects covered by all of the focusing points, from those close to the camera to those far away from the camera remain sharply defined (are within the depth of field) 

Opening #1 by GM Sales and Distribution

Opening #2 by GM Marketing

Bapak Soetjipto, bertindak sebagai "Operator Presentation"

The directors are seriously. Para direksi, searah jarum Jam Ibu Putri Kuswisnuwardani (Presdir of PT Mustika Ratu TBk),
Mr. Yogesh Dixit (Managing Director of PT Mustika Ratu TBk) Bpk Arman Tjitrosoebono (Director of PT Mustika Ratu Tbk

Bapak Amir Husein, General Manager Sales and Distribution 

Ibu Dwi Putri Yanti (GM Marketing)

It's time for coffee break 

Together at coffee break moment. 

Bapak Adi Santoso (Branch Manager Cab. Semarang)

Ibu Sestri, Maaf Bu saya suka curi-curi gambar. hehehe

Name Table, Branch Manager DKI. Beliau berhalangan hadir di awal acara karena istri beliau yang sedang mengalami sakit.
Dan dengan penuh rasa tanggung jawab "Tetap Semangat" hadir pada jam berikutnya untuk mempresentasikan  
"Plan Sales General Trade" DKI 

Dan ini adalah sebagian Team Sales (Supervisor) General Trade DKI

Gambar Atas dan Bawah, Mr. Gems Saino (Pesan dikirimi foto yang sendirian)
dan inilah penampakannya. Semoga berkenan.
Baca selengkapnya »

War Maniac (CornetShot)

Senin, 08 Oktober 2012 0 komentar
 In peace sons bury their father, in war fathers bury their sons

Apakah anda pernah mendengar kata CornetShot ?? jika iya mungkin anda pasti membayangkan sebuah senjata yang bisa membengkok. Tapi Persepsi ini salah, CornerShot bukanlah sebuah senjata. Itu hanyalah aksesoris senjata. Kali ini kita akan membahas lebih lanjut  tentang CornerShot. Ternyata bukan hanya camera saja yang memiliki LCD monitor untuk membidik sebuah object / sasaran. Dalam system persenjataan militer juga ada tuh LCDnya meskipun itu hanya sebuah aksesoris senjata. Aksesoris senjata ini dikembangkan oleh Lt. Col. Amos Golan, dari Israeli Defense Forces yang disponsori oleh Amerika.

Aksesoris senjata ini dikembangkan pada Tahun 2000. Yang ditujukan penggunaanya untuk tim SWAT dan tim-tim elit lainya yang sedang dalam situasi  yang melibatkan penyandraan dan teroris. Konsep atau tujuan dibuatnya aksesoris ini adalah agar para penggunanya dapat melihat dan menyerang target tanpa membahayakan si operator dari serangan balik. Cara kerjanya adalah  sebagai berikut : ujung larasnya dapat dibengkokkan ke kiri dan ke kanan. Pada ujungnya dilengkapi dengan kamera, sehingga bila digunakan pada sudut tembok, rumah dll, penembak mampu melihat sasaran melalui sebuah layar LCD kecil yang terletak di sampingnya

Sebenarnya konsep dari aksesoris ini ditemukan pertama kali oleh Nazi Jerman pada PD II yaitu senjata Jenis StG-44's Krummlauf dengan laras yang bengkok dan kaca yang terpasang pada senapan. Menurut si pembuat, alat ini sangat akurat dan efektif untuk digunakan pada jarak 100 meter dengan caliber peluru 9mm, 40, dan 45 dan efektif pula pada jarak 200 meter dengan peluru caliber 5,7 mm.

Alat ini dibuat dalam beberapa variasi, seperti untuk senjata jenis Beretta 92F,Glock,Sig Sauser, dan CZ selain itu alat ini juga dapat memuat kamera, video/audio transmition kits, laser dan senter taktis dll. Dan juga Alat ini dapat memuat Pelonta Geranat berkaliber 40mm, selain itu versi lanjutnya dapat memuat US M-16 dan sebuah  European joint assault weapon.

Pada Tahun 2004, talah dikembangkan tipe CornerShot yang baru yaitu CSP ( CornerShot Panzerfaust ) yaitu CornerShot yang digunakan untuk menembakan sebuah  Panzerfaust Anti-Tank Rocket, dan juga alat ini dapat benkok hingga 90 derajat ( versi lama hanya 60 derajat ).

Sumber :

Baca selengkapnya »

Canon EOS 650D 18MP DSLR

Selasa, 02 Oktober 2012 0 komentar
Sekitar bulan June Canon mengumumkan kamera DSLR terbarunya yaitu Canon EOS 650D (Rebel T4i). Canon EOS 650D adalah kamera dengan sensor 18-megapixel yang akan menggantikan EOS 600D generasi sebelumnya. Perubahan yang sangat mencolok yagn diusung oleh Canon EOS 650D ini adalah prosesor baru dan display-nya yang sudah menggunakan teknologi touchscreen. Canon EOS 650D menawarkan 18-megapixel APS-C CMOS sensor, dengan prosesor DIGIC 5 yang mengagumkan. Dengan prosesor ini EOS 650D mampu melakukan pengambilan foto dengan kecepatan 3-7 shot/detik.
Selain itu kamera ini juga bisa melakukan continuous autofocus selama mode video shooting dengan menggunakan resolusi 1080p. Kemampuan dari perekaman audio-nya juga diperbaiki dengan ditambahkannya mic stereo (pada versi sebelumnya masih menggunakan mic mono).
Canon EOS 650D front
Canon EOS 650D-flash
Canon EOS 650D up
Canon EOS 650D side
Kemampuan ISO yang dimiliki kamera ini adalah ISO 100-12800, dan dapat di-extend hingga 25600. Untuk memudahkan aksesibilitas kamera ini dilengkapi dengan display yang menggunakan teknologi 3in flip-out kapasitif touchscreen. Display yang ditawarkan mampu memberikan ketajaman maksimal dengan resolusi 1080k-dot.
Canon EOS 650D-flip
Canon EOS 650D touch
Canon EOS 650D akan mulai dipasarkan mulai 15 Juli 2012 dan harganya kurang lebih berkisar 12 juta rupiah (+lensa kita 18-55mm IS) atau 10.500.000 untuk body only.
Baca selengkapnya »
Thank's for your visit to my personal blog, Please Leave Your Message in The Message Box / Chat Below...

My Blog List